Rabu, 02 Mei 2012

contoh laporan PI SMK


LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI
PT. PLN (PERSERO) UPJ SLEMAN
Disusun dalam rangka melengkapi syarat penilaian Praktik Kerja Industri
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Yogyakarta
Bidang Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik
Program Keahlian Teknik Pemanfaatan Tanaga Listrik

Disusun Oleh :
Nama  : JATI WIBOWO
NIS     : TE. 0912191

Pemerintah Kota Yogyakarta
Dinas Pendidikan
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Yogyakarta
Jl. W. Monginsidi 2A Yogyakarta
2011



PENGESAHAN



Laporan ini telah diperiksa dan di setujui pada :

Hari                 :
Tanggal           :
Oleh


Pembimbing  PT.PLN
(PERSERO) UPJ Sleman



(  Hari Subagyo )
NIP.5685009-K


Pembimbing SMK N 3 Yogyakarta




( Drs.Pius Tri Mulyono )
NIP.19600711 198803 1 005



Menyetujui,

Ketua Program Keahlian




( Drs.Agus Jati Susilo )
NIP.19580815 199003 1 003



Mengetahui,


Manager PT .PLN (PERSERO)
UPJ Sleman




( Suryono Rohdiyanto S.T )
NIP.6793128-Z

Kepala SMK Negeri 3 Yogyakarta





( Drs.Aruji Siswanto )
NIP.19640507 199010 1 001
                                    



KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan Praktek Kerja Industri dengan baik,terhitung dari tanggal 22 november 2010 sampai 12  februari 2011.
            Laporan ini kami susun berdasarkan tugas yang kami terima selama Praktik Kerja Industri di PT.PLN (PERSERO) UPJ  Sleman yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan Praktik Kerja Industri.Dengan ini kami ucapkan terima kasih atas bimbingan yang telah kami terima kepada :
1.      Drs. Aruji Siswanto  selaku kepala  SMK  Negeri  3 Yogyakarta
2.      Drs. Agus Jati Susilo  selaku  ketua program keahlian Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik
3.      Drs. Pius Tri Mulyono  selaku pembimbing dari  SMK Negeri 3 Yogyakarta
4.      Suryono Rohdiyanto S.T selaku manager  PT.PLN(PERSERO) UPJ Sleman
5.      Hari Subagyo  selaku pembimbing dari  PT.PLN(PERSERO) UPJ Sleman
Serta seluruh guru SMK Negeri 3 Yogyakarta dan seluruh pegawai PT.PLN (persero) UPJ Sleman yang telah memberikan motifasi kepada kami untuk lebih maju dan membimbing kami dengan sabar dan bijaksana .
Demikian laporan ini kami susun,kritik dan saran yang membangun akan kami terima dengan senang hati.

Yogyakarta,    Mei 2011
                                                                                                Penyusun


DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................... i

Lembar Pengesahan ........................................................................................... ii

Kata Pengantar ................................................................................................... iii

Dartar Isi  ........................................................................................................... iv

BAB  I  PENDAHULUAN
          A. Latar Belakang ....................................................................................  1
          B.Tujuan Praktek Kerja Industri............................................................... 2
          C.Manfaat Praktek Kerja Industri ............................................................  2

BAB  II  PROFIL dan SEJARAH PERUSAHAAN
A.Profil dan Sejarah .................................................................................  4
B.Visi dan Misi.......................................................................................... 6
C.Ruang Lingkup Perusahaan................................................................... 6
D.Program Kerja Perusahaan..................................................................... 8
E.Struktur Organisasi Perusahaan............................................................. 13

BAB  III  KAJIAN TEORI
A.Sistem Kelistrikan Di Jawa Tengah Dan DIY.................................... 14
B.Sistem Pengaman Pada JTM 20 KV 3 fasa 4 Kawat.......................... 18
C.Ganguan Listrik................................................................................... 22
D.Transformator Distribusi..................................................................... 25
E.Dampak putusnya kawat netral terhadap JTM 20 KV........................ 28
F.KWh Meter.......................................................................................... 29
G.Konstruksi sutt 70 KV dan 150 KV................................................... 32


BAB  IV  URAIAN KEGIATAN
A.Daftar kegiatan harian......................................................................... 34

BAB V DAFTAR GAMBAR
A.Gambar komponen Jaringan................................................................ 39

 BAB  VI  PENUTUP
A.Kesimpulan......................................................................................... 47
B.Kritik dan Saran.................................................................................. 48






BAB 1
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Praktek Industri
            Perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya dibidang Teknik instalasi tenaga listrik , diharapkan adanya sumber daya manusia yang mampu menjalankan dan menciptakan hal – hal yang bermanfaat bagi manusia dibidang  teknik instalasi tenaga listrik. Di lingkungan sekolah siswa belum mengetahui perkembangan teknologi secara detail dan belum mempunyai pengalaman di dunia kerja. Oleh karena itu, siswa membutuhkan teori dan praktek dalam bidang Teknik instalasi tenaga listrik. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa Program Pendidikan Teknik Instalasi Tenaga Listrik, maka siswa diwajibkan menempuh Praktek  Kerja Industri. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menerapkan bekal yang diperoleh dibangku sekolah ke dalam dunia kerja dan mencari pengalaman di dunia kerja, sehingga siswa lebih mengetahui permasalahan yang berhubungan dengan listrik  khususnya bidang instalasi tenaga listrik.
Hal inilah yang mendasari siswa untuk melaksan Praktek Kerja Industri. Dengan melaksanakan Praktek Industri berarti menyelaraskan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki siswa sesuai perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Tempat Praktek Industri disesuaikan dengan jurusan yang ditempuh oleh siswa. Berdasarkan pertimbangan tersebut, di mana program study yang ditempuh oleh penulis adalah Pendidikan Teknik  Instalasi Tenaga Listrik, maka penulis memilih PT.PLN (persero) UPJ Sleman sebagai tempat pelaksanaan Praktek  Kerja Industri Industri.

B.            Tujuan praktek kerja industri
1. Tujuan Umum
a.       Untuk memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan, menggali informasi dan teknologi dalam upaya mengembangkan kualitas sumber daya manusia.
b.      Meningkatkan kualitas lulusan Program Pendidikan Teknik Instalasi Tenaga Listrik yang terampil dan handal serta dinamis.
2. Tujuan Khusus
a.       Siswa dapat mengetahui dan merasakan situasi dunia kerja.
b.      Siswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang sistem Sistem Instalasi Tenaga Listrik.
c.       Siswa dapat membongkar dan memasang system instalasi tenaga listrik.
d.      Siswa  dapat memperbaiki kerusakan – kerusakan yang terjadi pada sistem instalasi tenaga listrik.
e.       Untuk mendapatlan pengalaman di dunia kerja
f.       Untuk memenuhi syarat Praktek Kerja  Industi.

C.           Manfaat Praktek Kerja Industri
1. Bagi Siswa
a.       Menambah ilmu pengetahuan dan terjun langsung ke lapangan pekerjaan.
b.      Mengetahui sistem kerja dan peraturan di perusahaan.
c.       Menambah pengetahuan serta keterampilan dalam memperbaiki dan merawat sistem instalasi tenaga listrik.
d.      Mengetahui seluk beluk dan menejemen perusahaan.
2. Bagi Perusahaan
a.       Adanya hubungan yang serasi antara dunia  kelistrikan dengan dunia pendidikan sehingga ada hubungan timbal balik antara keduanya.
b.      Secara tidak langsung perusahaan  mendapakan promosi untuk mencari pegawai dan karyawan yang lebih baik.










BAB II
PROFIL dan SEJARAH PERUSAHAAN
PT.PLN (PERSERO) DI INDONESIA

A.      Profil dan Sejarah
Berawal di akhir abad ke 19, perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang pabrik gula dan pabrik teh mendirikan pembangkit listrik untuk keperluan sendiri.Antara tahun 1942-1945 terjadi peralihan pengelolaan perusahaan-perusahaan Belanda tersebut oleh Jepang,setelah Belanda menyerah kepada pasukan tentara Jepang di awal Perang Dunia II.
            Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada Sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pemuda dan buruh listrik melalui delegasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan Pimpinan KNI Pusat berinisiatif menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW.
Pada tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada saat yang sama, 2 (dua) perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik milik negara dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas diresmikan.
Pada tahun 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.17, status Perusahaan Listrik Negara (PLN) ditetapkan sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara dan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum.
Seiring dengan kebijakan Pemerintah yang memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik, maka sejak tahun 1994 status PLN beralih dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai PKUK dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang.


B.       Visi dan Misi Perusahaan
B.1   Visi :
Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertubuh-kembang, unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.
B.2  Misi :
  1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.
  2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kehidupan masyarakat
  3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
  4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan
C.      Moto dan penerapan Nilai -nilai
Moto PLN : Listrik untuk kehidupan yang lebih baik
Penerapan Nilai-Nilai:
·         Saling percaya,
·         Integritas,
·         Peduli,
·         Pembelajar
D.      Ruang Lingkup Perusahaan
Ruang lingkup yang ada di PT. PLN persero Indonesia meliputi :
D.1 Ruang Lingkup Usaha Pokok P3B
Bidang usaha pokok yang ditangani oleh P3B sesuai tanggung jawab yang diberikan kepadanya sebagai pelaksana monopoli transmisi, pengelola operasi sistem dan transaksi tenaga listrik adalah:
  1. Penyaluran Tenaga Listrik, termasuk layanan penyambungan ke sistem penyaluran.
  2. Perencanaan Sistem Tenaga Listrik yang terdiri dari indikasi kebutuhan pembangkitan dan pengembangan sistem penyaluran.
  3. Operasi Sistem Tenaga Listrik yang meliputi manajemen energi dan pengendalian operasi.
  4. Transaksi Tenaga Listrik yang meliputi penyediaan informasi sistem tenaga listrik dan pengelolaan transaksi tenaga listrik.
  5. Setelmen Transaksi Tenaga Listrik, yaitu perhitungan dan pengelolaan tagihan transmission charges, system service charges dan transaksi tenaga listrik, termasuk pengelolaan sistem metering.

D.2 Ruang lingkup Usaha di Luar Usaha Pokok P3B
Disamping mengelola bidang usaha yang bersifat monopoli, P3B memiliki peluang untuk mengembangkan usaha lain di luar usaha pokok dengan maksud untuk mengoptimalkan penggunaan sumberdaya dan investasi yang telah dilakukan agar dapat memberikan kontribusi kepada laba usaha P3B, yang secara tidak langsung pada akhirnya akan dapat memberikan manfaat kepada stake holders.
Jenis-jenis usaha yang dapat dilakukan antara lain: jasa operasi dan pemeliharaan instalasi listrik, pelaksana pengujian dan komisioning instalasi dan peralatan listrik, konstruksi/instalasi gardu induk dan transmisi, enjiniring instalasi, pelaksana operasi sistem tenaga listrik, konsultasi dan pelatihan, serta penyewaan peralatan dan properti.

Komitmen PT PLN (Persero) Distribusi Jateng dan DIY dalam membantu mengembangkan sektor ekonomi masyarakat tak perlu lagi diragukan. Lewat Program Kemitraan yang diusungnya, PLN Distribusi Jateng dan DIY bersinergi bersama mitra binaan untuk mengentaskan kemiskinan. Jejak rekam Program Kemitraan di PLN memiliki sejarah panjang. Bermula dari Surat Keputusan (SK) Pemerintah yang dikeluarkan tahun 1989. Kemudian secara efektif sejak tahun 1991, PLN melaksanakan pemberdayaan usaha kecil dan koperasi. Program tersebut bernama Pembinaan Pengusaha Ekonomi Lemah dan Koperasi (PPELK). Dalam melaksanakan program tersebut, PLN telah mendelegasikannya kepada seluruh unit administrasi yang tersebar di Indonesia. Dan agar pemberdayaan usaha kecil dan koperasi itu dapat lebih berdaya guna, maka PLN menerbitkan buku petunjuk pelaksanaan yang selalu diperbaharui. Selanjutnya, seiring bertambahnya dana pemberdayaan, maka bantuan yang diberikan bukan hanya bantuan modal kerja dan bantuan pelatihan, tapi juga bantuan pemasaran dengan status hibah. Kemudian, sejak tahun 1994 progrram PPELK itu berganti menjadi Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK). Dan sejak turunnya Keputusan Menteri (Kepmen) BUMN No 236 tahun 2003, maka program tersebut bermetamorfosa menjadi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Dalam Kepmen 236 itu disebutkan bahwa setiap BUMN wajib menyisihkan keuntungan untuk program kemitraan dan program bina lingkungan (community development). Program kemitraan dialokasikan satu persen sampai tiga persen dari laba bersih. Sementara program bina lingkungan yang bersifat hibah ditentukan maksimal satu persen. Peran Kemitraan PLN Program kemitraan PLN memiliki misi mulia. Yakni ikut mendorong kegiatan dan pertumbuhan ekonomi serta terciptanya pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Dengan begitu, diharapkan usaha kecil dan koperasi dapat menjadi tangguh dan mandiri sehingga ikut meningkatkan taraf hidup masyarakat. Misi tersebut diupayakan melalui serangkaian langkah strategis yang dilakukan Program Kemitraan PLN Distribusi Jateng dan DIY. Di antaranya, untuk meningkatkan proses seleksi dan pengkajian, telah dilakukan koordinasi rutin dengan koordinator BUMN dan Departemen Koperasi. Selain itu, juga telah dibuat ringkasan peraturan persyaratan pemberian bantuan kemitraan. Dan juga sejak 1998, pelaksana distribusi telah mensosialisasikan persyaratan pemberian kemitraan ke unit. Langkah strategis program kemitraan lainnnya yaitu juga berperan dalam membangun citra perusahaan. Karena itu, setiap pemberian bantuan modal
kerja, selalu disampaikan kepada calon mitra mengenai visi dan misi PLN, disamping juga meminta mitra agar ikut menjaga aset PLN. Sementara, untuk memperkecil tingkat kemacetan kredit, program Kemitraan PLN Distribusi Jateng dan DIY, mengupayakannya dengan meningkatkan frekuensi kunjungan ke mitra binaan. Pemberian motivasi kepada mitra binaan agar pantang menyerah dalam berusaha dirasa menjadi obat mujarab untuk memperkecil kemacetan kredit. Tentu dalam pelaksanaannya asas kekeluaragaan dikedepankan.
Di samping itu, untuk memudahkan monitoring, juga telah dibuat kartu piutang mitra binaan setiap pengucuran bantuan pinjamn modal kerja. Langkah nyata Di samping sejumlah langkah strategis yang dilakukan, tahun 2006 lalu, PLN Distribusi Jateng dan DIY, telah melaksanakan sejumlah langkah nyata merangkul mitra binaan. Bantuan modal kerja dan investasi sebesar Rp 1,8 milyar telah digelontorkan ke 134 mitra binaan. Bantuan tersebut terbagi untutk wilayah Jateng sebesar Rp 1,3 milyar dan untuk wilayah DI Yogyakarta sebesar Rp 500 juta. Selain bantuan modal kerja dan investasi, Program kemitraan PLN Distribusi jateng dan DIY juga menyalurkan dan hibah. Sampai Desember 2006 lalu, sejumlah program dengan dana hibah telah terealisasi. Program-program yang telah terealisasi itu antara lain, di bidang managerial telah dilakukan Pelatihan Pembukuan, Perpajakan, dan Ekspor. Pelatihan yang bekerjasama dengan LPM IPKKI Solo itu diikuti 30 mitra binaan di APJ Surakarta selama empat hari (25 – 29 April 2006). Di samping itu juga telah dilakukan peningkatan sumber daya internal SDM melalui pelatihan laptop. Dan pada 13 sampai 15 Juni 2006 lalu juga telah dilaksanakan Pelatihan Teknik Negosiasi dan Kontrak Dagang Ekspor. Pelatihan yang bekerjasama dengan PPEI Jakarta tersebut diikuti mitra-mitra binaan seperti Purnia Jati (Industri Mebel di Sragen), Yuono Jati (Industri Mebel di Sragen), Jati Teken (Industri Mebel di Sukoharjo), Jat’s Handicraft (Kerjainan Perak di Yogya), dan Sudikan (internal SDM). Gencarkan Promosi Sementara, untuk bidang pemasaran (promosi), program kemitraan PLN Distribusi Jateng dan DIY cukup gencar melakukannya. Tahun 2006 lalu, ada sembilan pameran yang diikuti mitra binaan. Pertama, Pameran Inacraft 2006 yang berlangsung 19 -23 April 2006. Dalam pameran yang digelar di JCC Jakarta tersebut, PLN Distribusi Jateng dan DIY mengikutsertakan dua mitra binaannya, Kusuma Citra Mandiri (Bantul) dan Exis Purwanti (Yogya). Kedua, Pameran Gelar Produk Indonesia yang juga diadakan di JCC Jakarta. Dalam pameran itu, Bayu Kartika Aji dari Sukoharjo yang menjadi duta mitra binaan PLN Distribusi Jateng dan DIY. Ketiga, Pameran Produk Mitra Binaan dalam Rangka Raker PT PLN (Persero). Acara yang dilangsungkan di Pandaan (Jatim) itu diikuti Jat’s Handicraft dari Yogya. Keempat, dalam Pameran Hari Koperasi Nasional di Pekalongan (11-15 Juli 2006), mitra binaan Fita Sport (industri pakaian olahraga di Semarang) ikut berpartispasi. Kelima, pada pameran Texcraft (5-9 Juli 2006) di JEC Yogya, mitra binaan Purnia Jati (industri mebel dari Sragen) ikut meramaikannya. Keenam, Pameran Solo Festival Smesco (7 – 11 September 2006) di Gedung Graha Wisata Surakarta mengikutsertakan mitra binaan Asri Art (industri handycraft dari Grobogan). Ketujuh, pada Pasar Murah Rakyat Jateng yang berlangsung di Gedung Berlian (16 – 18 Oktober 2006), mitra Anugerah (industri roti dan kue) dan Richanah (industri garmen) ikut berperan-serta. Kedelapan, dalam Bazar BUMN Peduli Masyarakat Jateng (13 -15 Oktober 2006), mitra Aji Pancasona (sembako) dan HM Thamrin (industri gramen) ikut memeriahkannya. Dan pameran terakhir yang diikuti mitra binaan PLN Distribusi Jateng dan DIY adalah pada Pameran Berlin Import Shop di Jerman (15 – 19 November 2006). Dalam pameran tersebut, Program Kemitraan PLN Distribusi Jateng dan DIY mengeluarkan dana lebih dari Rp 90 juta untuk membiayai Jat’s Handicraft (Yogyakarta). Menggelembung Rp 42,3 milyar Dana awal program kemitraan PLN Distribusi Jateng dan DIY berasal dari dropping dana dari Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben) pada tahun 1991-1992. Jumlahnya waktu itu hanya Rp 77 juta. Setahun kemudian,
Mentamben kembali men-dropping dana sebesar Rp 1,4 milyar. Dropping dana itu terus berlanjut setiap tahunnya, Rp 1,6 milyar (tahun 1993-1994), Rp 2,5 milyar (1994-1995), Rp 2,7 milyar (1995), dan Rp 3 milyar (1996). Dropping dana itu dilanjutkan PLN Kantor Pusat sebesar Rp 1,2 milyar (1997) dan Rp 3,1 milyar (1998). Kemudian pada 1999, terdapat pelimpahan dari unit lain berupa nilai kontrak dan dropping sebesar Rp 1,6 milyar. Dari berbagai upaya yang telah dilakukan itu, Program Kemitraan PLN Distribusi Jateng dan DIY cukup berhasil mengelola dana tersebut. Terbukti, dari dana dropping sebesar Rp 17.378.497.985 pada 1999, kini telah menggelembung menjadi sekitar Rp 42,3 milyar. Dari jumlah itu, sebanyak 5.398 mitra binaan yang telah menikmati manfaatnya. Sinergi PLN dan mitra binaannya itu telah berkontribusi konkret dalam membantu pemerintah memberantas kemiskinan. Untuk menuju kesejahteraan bangsa yang menjadi idaman bersama.
















BAB III
KAJIAN TEORI


A.      Sistem keelistrikan di Jawa Tengah dan DIY
Karena berbagai persoalan teknis, tenaga listrik hanya dibangkitkan pada tempat-tempat tertentu. Sedangkan pelangan tenaga listrik tersebar diberbagai tempat, maka penyampaian tenaga listrik dari tempat dibangkitkan sampai ke tempat pelanggan memerlukan jaringan. Tenaga listrik dibangkitkan dari PLTA, PLTU, PLTG, PLTP, dan PLTD kemudian disalurkan melalui saluran transmisi setelah itu terlebih dahulu dinaikan tegangannya oleh transformator penaik tegangan (step up transformator) yang ada di Gardu induk.
A.1 Struktur jaringan tegangan menengah 20 KV
Struktur jaringan tegangan menengah yang ada bila dikelompokkan terdiri dari lima model, yaitu
1.      Jaringan radial.
2.      Jaringan hantaran penghubung (Tie Line)
3.      Jaringan lingkaran (loop)
4.      Jaringan sepindel
5.      Sistem gugus atau system kluster


A.2 Sistem pentanahan jaringan distribusi di Indonesia
Pentanahan titik netral sistem adalah hubungan titik netral dengan tanah, baik langsung maupun melalui tahanan reaktansi atau kumparan Petersen. Di Indonesia sistem pentanahan meliputi empat macam yaitu:
1.      Pentanahan mengambang (tidak ditanahkan)
2.      Pentanahan dengan tahanan
3.      Pentanahan dengan kumparan Petersen
4.      Pentanahan langsung (Solid)
Sistem kelistrikan pada PLN distribusi Jawa Tengah dan DIY adalah menggunakan tiga fasa empat kawat dengan pentanahan netral secara langsung.
Pada sistem ini mempunyai spesifikasi sebagai berikut:
a.       Sistem jaringan;
Tegangan normal 20 kV (antar fasa),
Sistem pentanahan dengan netral ditanahkan langsung sepanjang jaringan.
Kawat netral dipakai  bersama untuk saluran tegangan menengah dan tegangan rendah dibawahnya.
Konstruksi jaringan terdiri dari saluran udara terutama dan saluran kabel, sedang saluran udara terdiri dari:
Saluran utama terdiri dari kawat fasa 3 x AAAC 240 mm² dan kawat netral 1 x 120  mm²
Saluran cabang terdiri dari jaringan 3 fasa atau 1 fasa (2 kawat, untuk fasa dan Netral) dengan ukuran disesuaikan dengan  perencanaan beban.
 Sistem pelayanan radial dengan kemungkinan antara saluran utama yang berbeda penyulang dapat saling dihubungkan dalam keadaan darurat.
 Pelayanan beban dapat dilayani dengan:
Tiga fasa, 4 kawat dengan tegangan 20 kV antara fasa tunggal.
b.      Sistem Pengamanan
Sistem pengaman jaringan dilakukan dengan perencanaan kordinasi sebagai berikut:
. Pemutus tenaga (PMT) dengan pengindera OCR dan GRF
. Recloser, dengan pengindera OCR (Over Current Relay)
. Sectionaliser, dengan pengindera jumplah tegangan hilang / CTO (Count to open)
. FCO, dengan fuse pelebur untuk pemutus rangkaian akibat hubung singkat karena          ganguan atau beban lebih.
c.       Keistimawaan dari sistem 3 fasa 4 kawat.
. Sistem ini pendekatannya di dasari dari jarak antara bebaan relative jauh dan kepadatan beban rendah.
. Sistem ini juga lebih sesuaiuntuk daerah tahanan spesifik tahanannya relative tinggi.Pada system ini kawat netral di usahakan sebanyak mungkin dan merata di tanahkan.Kawat netral JTM dan JTR di hubungkan dan di pakai bersama, di mana pentanahannya di lakukan sepanjang JTM,JTR dan di hubungkan pula pada pentanahan TR dari tiap instalasi konsumen.Sistem pelayanan JTM terutama menggunakan jaringan 1 fasa yang terdiri dari kawat fasa dan netral,sehingga memungkinkan penggunaan trafo-trafo kecil 1 fasa yang sesuai bagi beban-beban kecil yang berjauhan letaknya.
Dengan adanya tahanan netral yang sangat kecil mendekati nol,maka srus hubung tanah menjadi relative besar dan berbanding terbalik dengan letak gangguan tanah sehingga perlu dan dapat di gunakan alat pengaman yang dapat bekerja cepat dan dapat memanfaatkan nalat pengindera (relay) dengan karakteristik waktu terbalik (invers time)
Keuntungan lain dari arus gangguan fasa tanah yang besar adalah dapat dilakukannya koordinasi antara PMT dan relay ,arus lebih atau recloser dengan pengaman lebur atau antara recloser dengan automatic sectionalizer secara baik.
Pada percabangan beban ataun taping 1 fasa dapat di gunakan pengaman fasa tunggal yang lebih selectif.
A.3 Macam- macam gangguan dan akibatnya
1.      Gangguan beban lebih.
2.      Gangguan  hubung singkat.
3.      Gangguan tegangan lebih.
4.      Gangguan hilangnya pembangkit.
5.      Gangguan instability.
A.3.1 Cara Mengatasi gangguan
1.      Mengurangi terjadinya gangguan
2.      Mengurangi akibat gangguan

A.4 Impedansi jaringan distribusi
Pada sistemdistribusi tanaga listik impedansi yang menentukan besarnya arus hubung singkat:
1.      Impedansi sumber.
2.      Imoadansi transformator tenaga.
3.      Impedansi hantaran atau jaringan.
4.      Impedansi gangguan atau titik hubung singkat.
B.       SISTEM PENGAMAN PADA JTM 20 KV 3 FASA 4 KAWAT
B.1 Pemutus tenaga
Pemutus tenaga (PMT) adalah alat pemutus otomatis yang mampu memutus atau menutup rangkaian pada semua kondisi,yaitu pada kondisi normal atau pun gangguan.Secra singkat tugas pokok pemutus tenaga adalah
1.      Keadaan normal,membuka atau menutup rangkain listrik.
2.      Keadaan tidak normal dengan bantuan relay,PMT dapat membuka sehingga gangguan dapat di hilangkan.
B.2 Relay arus lebih (OCR)
Relay arus lebih adalah relay yang bekerja terhadap arus lebih, Ia akan bekerja bila arus yang mengalir melebihi nilai setingannya.
a.Prisip Kerja
Pada dasarnya relay arus lebih adalah  suatu alat yang mendeteksi  basarn arus yang melalui suatu jaringan dengan bantuan trafo arus besaran yang boleh melewatinya di sebut setting.Macam karakteristik relay arus lebih:
            1.Relay waktu seketika(Instantaneous relay)
            2. Relay arus lebih waktu tertentu (Devinite time relay)
            3. Relay arus lebih waktu terbalik
b.Relay Waktu Seketika (instantaneous relay)
Relay yang bekerja seketika ketika arus yang mengalir melebihi nilai settingnya,relay akan bekerja dalam waktu mili detik (10-20 ms).Relay ini jarang berdiri sendiri tetapi umumnya di kombinasikan dengan relay arus lebih dengan karakteristik yang lain.
c.Relay arus lebih waktu tertentu(Devinite time relay)
Relay ini akan memberikan perintah pada PMT pada saat terjadi  gangguan dan besarnya arus gangguan melampaui settingannya(Is),dan jangka waktu kerja relay mulai pick up sampai kerja relay di perpanjang dengan waktu tertentu tidak tergantung arus yang mengerjakan ralay.
d.Relay arus lebih waktu terbalik
Relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang tergantung dari beasarnya arus secara terbalik (Inverse time),makin besar arus semakin kesil waktu tundanya.Karakteristik ini bermacam-macamsetiap pabrik dapat membuat karakteristik yang berbeda-beda,karakteristiki waktunya di bedakan dalam 3 kelompok:
1.Standar inverse.
            2.Very Inverse.
            3.Extreemely Inverse.                        

Pada relay arus lebih memiliki 2 jenis pengaman yang berbeda antara lain:
1.      Pengamanan hubung singkat fasa relay mendeteksi arus fasa..oleh karena itu ,disebut pula” relay fasa.Karena pada relay  tersebut di aliri oleh arus fasa mak settingannya (Is) harus lebih besar dari arus beban maksimum.Ditetapkan Is = 1,2 x In (In = arus nominal peralatan terlemah
2.      Pengamanan hubung tanah arus gangguan satu fasa tanah ada kemungkinan lebih kecil dari arus beban,ini di sebabkan salah satu atau dari kedua hal berikut:
Gangguan tanah ini melalui tahanan gangguan yang masih cukup tinggi.pentanahan netral sistemnya melalui impedansi atau tahanan yang tinggi, atau bahkan tidak di tahankan.dalam hal demikian relay pengaman hubung singkat (relay fasa) tidak dapat mendeteksi gangguan tahanan.Supaya relay sensitive terhadap  gangguan tersebut dan tidak salah kerja oleh arus beban,maka ralay di pasang tidak pada kawat fasa melainkan kawat netral pada sekunder trfo arusnya. Dengan denikian relay ini si aliri arus oleh netralnya,berdasarkan komponen simetrisnya arus netral adalah jumlah dari arus ketiga fasanya.







B.3 Pemutus balik otomatis (Recloser)
Gambar B.3 Pemutus balik otomatis (Recloser)
Pemutus balik otomatis ( automaticcircuit recloser = Recloser) ini secara fisik mempunyai kemampuan spirit pemutus beban yang dapat bekrja secara otomatisuntuk mengamankan system dari arus labih yang di akibatkan adanya ganguan hubung singkat.
B.4 Saklar seksi otomatis (sectionaliser)
Gambar B.4 Saklar seksi otomatis (sectionaliser)
Sectionaliser adalah alat perlindungan terhadap arus lebih, hanya dipasang bersama-sama dengan PBO yang berfungsi sebagai pengaman back-upnya. Alat ini menghitung jumlah oprasi pemutusan yang dilakukan oleh perlindungan back-upnya secara otomatis disisi hulu dan SSO ini membuka pada saat peralatan pengaman disisi hulunya pada posisi terbuka.
B.5 Pelebur  (fuse cut out)
 
Gambar B.5 Pelebur (fuse cut out)
Pelebur adalah suatu alat pemutus, dimana dengan meleburnya bagian bari komponen yang telah dirancang khusus dan disesuaikan ukurannya untuk membuka rangkaian dimana pelebur tersebut dipasang dan memutuskan arus, bila arus tersebut melebihi suatu ninai dalam waktu tertentu. Oleh karena peleburditujukan untuk menghilangkan gangguan permanen , maka pelebur dirancang meleleh pada waktu tertentu pada nilai arus  gangguan tertentu.
C.    GANGGUAN  LISTRIK
            Gangguan listrik yang diakibatkan oleh Arus dan Tegangan yang sering terjadi didalam pengoperasian daya listrik di bedakan menjadi 2 yaitu :
1.Gangguan Listrik yang diakibatkan oleh arus antara lain adalah :
        - Over load current ( arus beban lebih ) yaitu : Arus lebih yang terjadi didalam         jaringan listrik karena, misalnya pada pengoperasian motor.
       - Over current ( arus lebih / short circuit ) : Arus dengan nilai melebihi nilai pengenal suatu peralatan. Nilai pengenal adalah : Kemampuan Hantar Arus ( KHA ) pelatan listrik.   
       - Leakage current ( arus bocor ) : Arus yang mengalir ke bumi atau ke bagian konduktif lain. Arus bocor ini dapat diakibatkan isolasi yang kurang baik.
2.Gangguan Listrik yang diakibatkan oleh tegangan antara lain adalah :
      - Over Voltage ( Tegangan lebih ) : Surge Arrester.
Perbedaan  MCB dengan Saklar
1.Circuit Breaker adalah :
Saklar mekanis yang mampu menghubungkan, mengalirkan dan memutuskan arus pada kondisi sirkit normal dan juga mampu menghubungkan, mengalirkan untuk jangka waktu tertentu dan memutuskan secara otomatis arus pada kondisi sirkit tidak normal, seperti pada kondisi hubung pendek ( PUIL Bab-1.9 ).
2.Saklar / pemisah / Isolator adalah :
Gawai untuk memisahkan atau menghubungkan sirkit dalam keadaan tidak atau hampir tidak berbeban ( PUIL Bab-1.9 ).
3. Fuse / pengaman lebur / sekering adalah :
Gawai penyakelaran dengan peleburan satu komponen atau lebih yang dirancang khusus dan sebanding yang membuka sirkit tempat pengaman lebur disisipkan dan memutus arus apabila arus tersebut melebihi nilai yang ditentukan dalam waktu yang sesuai ( PUIL Bab-1.9
C.1 Arus Hubung Singkat (Short Circuit)
Arus hubung pendek adalah :
Arus lebih yang dihasilkan oleh gangguan dengan mengabaikan impedansi antara titik-titik pada potensial yang berbeda dalam kondisi layanan normal.
PUIL 2000 ( 1.9 ) mendefinisikan Arus Hubung Pendek adalah :
Arus lebih yang diakibatkan oleh gangguan impedans yang sangat kecil mendekati nol antara dua penghantar aktif yang dalam kondisi operasi normal berbeda potensialnya ( short circuit curre
C.2 Akibat Hubung Singkat
1. Pada lokasi gangguan, adanya busur api listrik yg dapat menyebabkan :
* Kerusakan isolasi.
* Melelehnya penghantar.
* Api dan bahaya kebakaran.

2. Pada sirkuit yang tergantung :
* Gaya elektrodinamik yang menyebabkan :
  • Perubahan bentuk bus-bar.
  • Terputusnya kabel.
* Suhu yang berlebihan akan terus meningkat, akibatnya rugi dalam joule semakin besar pula, sehingga menyebabkan resiko kerusakan isolasi.

3. Disirkuit jaringan lain atau yang berdekatan dengan jaringan :
* Tegangan menurun selama waktu gangguan yang bervariasi dari beberapa milidetik s/d beberap ratus milidetik.
* Mematikan sebagian jaringan.
* Ketidak stabilan dinamis dan/atau rugi sinkronisasi mekanis.
* Gangguan kendali / kontrol sirkuit.
 D. TRANSFORMATOR DISTRIBUSI
Gambar D.1 Transformator merk SINTRA  3 fasa 50Hz
Gambar D.2 Transformator merk STARLET 1 fasa 50Hz
                    
Transformator atau sering juga disebut trafo adalah komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk mengubah (menaikkan/menurunkan) tegangangan listrik bolak-balik (AC)Bentuk dasar transformator adalah sepasang ujung pada bagian primer dan sepasang ujung pada bagian sekunder. Bagian primer dan skunder adalah merupakan lilitan kawat email yang tidak berhubungan secara elektris. Kedua lilitan kawat ini dililitkan pada sebuah inti yang dinamakan inti trafo. Untuk trafo yang digunakan pada tegangan AC frekuensi rendah biasanya inti trafo terbuat dari lempengan2 besi yang disusun menjadi satu membentuk teras besi. Sedangkan untuk trafo frekuensi tinggi (digunakan pada rangkaian2 Radio Frequency/RF) menggunakan inti ferit (serbuk besi yang dipadatkan) 
Pada penggunaannya trafo juga digunakan untuk mengubah impedansi. Untuk trafo frekuensi rendah contohnya adalah trafo penurun tegangan (Step Down Trafo) yang digunakan pada peralatan2 elektronik tegangan rendah, adaptor, pengisi battery dsb. Trafo jenis ini jika pada bagian primernya kita hubungkan dengan tegangan AC misalnya 220 volt maka pada bagian skundernya akan mengeluarkan tegangan yang lebih rendah. Pada rangkaian tersebut trafo berfungsi untuk menurunkan tegangan AC dari jala-jala PLN yang 220 volt menjadi sebesar tegangan yang dibutuhkan peralatan tersebut agar dapat bekerja normal, misalnya 3 volt, 6 volt atau 12 volt dsb. Sementara itu trafo penaik tegangan (Step Up Trafo) adalah kebalikan dari step down trafo yaitu untuk menaikkan tegangan listrik AC. Sebuah trafo penurun tegangan bisa juga kita gunakan untuk menaikkan tegangan dengan membalik bagian primernya menjadi skunder dan bagian skunder menjadi primer, tentu dengan memperhatikan tegangan kerja trafo tersebut. Contoh penggunaan trafo penaik tegangan adalah pada rangkaian emergency light/lampu darurat yang menyala saat PLN padam dan UPS pada PC. Prinsip kerjanyanya adalah tegangan DC (searah) yang berasal dari battery diubah menjadi tegangan AC (bolak-balik) lalu dinaikan menjadi 220 volt oleh trafo sehingga mampu menyalakan lampu atau PC disaat padam. Secara prinsip trafo penurun tegangan adalah jumlah lilitan primernya lebih banyak dari pada jumlah lilitan skundernya. Sedangkan trafo penaik tegangan memiliki jumlah lilitan primer lebih sedikit dari pada jumlah lilitan skundernya. Jika dilihat dari besarnya ukuran kawat email yang digunakan, trafo penurun tegangan memiliki ukuran kawat yang lebih kecil pada lilitan primernya. Sebaliknya trafo penaik tegangan memiliki ukuran kawat yang lebih besar pada lilitan primernya. Hal ini dikarenakan pada trafo penurun tegangan out put (keluaran) arus listriknya lebih besar, sedangkan trafo penaik tegangan memiliki out put arus yang lebih kecil. Sementara itu frekuensi tegangan pada in put dan out putnya tetap (tidak ada perubahan). Parameter lain adalah efisiensi daya trafo. Dalam kinerjanya trafo yang bagus memiliki efisiensi daya yang besar (sekitar 70-80%). Daya yang hilang biasanya keluar menjadi kalor/panas yang timbul pada saat trafo bekerja. Trafo yang memiliki efisiensi tinggi dibuat dengan teknik tertentu dengan memperhatikan bahan inti trafo, kerapatan lilitannya serta faktor2 lainnya.Untuk mengetahui sebuah trafo masih bagus atau sudah rusak adalah dengan menggunakan AVO meter. Caranya posisikan AVO meter pada posisi Ohm meter, lalu cek lilitan primernya harus terhubung. Demikian juga lilitan sekundernya juga harus terhubung. Sedangkan antara lilitan primer dan skunder tidak boleh terhubung, jika terhubung maka trafo tersebut konslet (kecuali untuk jenis trafo tertentu yang memang didesain khusus untuk pemakaian tertentu). Begitu juga antara inti trafo dan lilitan primer/skunder tidak boleh terhubung, jika terhubung maka trafo tersebut akan mengalami kebocoran arus jika digunakan. Secara fisik trafo yang bagus adalah trafo yang memiliki inti trafo yang rata dan rapat serta jika digunakan tidak bergetar, sehingga efisiensi dayanya bagus. Dalam penggunaannya perhatikan baik2 tegangan kerja trafo, tiap tep-nya biasanya ditulis tegangan kerjanya misalnya pada primernya 0V - 110V - 220V, untuk tegangan 220 volt gunakan tep 0V dan 220V, sedangkan untuk tegangan 110 volt gunakan 0V dan 110V, jangan sampai salah atau trafo kita bakal hangus! Dan pada skundernya misalnya 0V - 3V - 6V - 12V dsb, gunakan 0V dan tegangan yang diperlukan. Ada juga jenis trafo yang menggunakan CT (Center Tep) yang artinya adalah titik tengah. Contoh misalnya 12V - CT - 12V, artinya jika kita gunakan tep CT dan 12V maka besarnya tegangan adalah 12 volt, tapi jika kita gunakan 12V dan 12V besarnya tegangan adalah 24 volt.Besarnya arus listrik yang bisa di supply oleh sebuah trafo biasanya juga dicantumkan misalnya 0.5 Amp, 1 Amp, 5 Amp dsb. Sesuaikan dengan kebutuhan jika membeli atau menggunakannya agar bisa berfungsi normal dan efisien.Jenis2 trafo yang lain adalah trafo OT(Output Trafo) dan IT(Input Trafo). Trafo jenis ini banyak digunakan pada peralatan audio. Untuk trafo frekuensi tinggi mungkin nanti akan kita bahas pada bagian Radio Frekuensi (RF) karena penggunaannya lebih banyak dalam rangkaian2 RF.

E. Dampak putusnya kawat netral terhadap JTM 20 KV
Berhasilnya  suatu pengamanan dengan rele gangguaan ke tanah sangat tegantung pada besarnya arus gangguan ke tanah. Di jawa tengah  dan DIY pada umumn banyak di jumpai kawat netral putus. Putusnya kawat netral dispanjang jaringan ini bisa menyebabkan arus ganguan ke tanah menjadi lebih kecil dari arus setimg peralatan proteksi yang terpasang karena impedansi urutan nol saluran akan menjadi lebih besar dari jaringan saat kondisi normal. Hal ini akan sangat membahayakan keselamatan manusia dan juga menyebabkan kerusakan pada peralatan yang tersambung ke sistem akibat tidak bekerjanya rele proteksi.


E.1 Dampak putusnya kawat netral terhadap keamanan peralatan pelanggan dari pengaruh sambaran petir
Sambaran petir terhadap JTM bisa menimbulkan arus gangguan yang sangat besar, untuk mengatasinya digunakan lighting arrester (LA) sebagai alat pengaman yang berfungsi untuk mengeliminir gangguan hubung singkat tersebut. Akan tetapi arus ganguan tersebut tidak dapat sepenuhnya dieliminir oleh LA, sehingga perlu adanya pengaman tambahan berupa sistem pengetanahan netral yang baik yaitu, sistem pengetanahan dengan tanah yang kecil mendekati nol atau pengetanahan langsung. Tujuanya agar arus gangguan akibat sambaran petir bisa  diamankan ke tanah secara sempurana.
F. KWH Meter Prabayar 1 fasa
KWH Meter Prabayar merupakan KWH meter digital yang menggunakan sistem prabayar.  KWH Meter Prabayar ini terdiri dari sebuah  KWH meter digital dan peralatan Handy Cash.Peralatan Handy Cash digunakan oleh operator untuk memonitor dan mencatat jumlah listrik yang digunakan oleh pelanggan. Jumlah pelanggan dan jumlah listrik yang terjual dicatat dalam periode waktu tertentu. Setiap peralatan Handy Cash dapat menangani sampai 480 pelanggan.
Gambar F. KWH Meter Prabayar 1 fasa
Keuntungan menggunakan KWH Meter Prabayar dibanding dengan KWH Meter Konvensional. Mudah pengoperasian. Dengan sistem prabayar, penyedia listrik menerima pembayaran di muka, begitu peralatan dipasang dan diload. Konsumsi listrik dapat diukur dengan lebih presisi. Batas listrik lebih nyata dan tidak terpengaruh oleh tipe beban, karena KWH Meter Prabayar mengukur Daya (Watt), bukan Arus (Ampere). Jika pelanggan menginginkan perubahan daya, hanya diperlukan perubahan pada perangkat lunaknya, tanpa perlu merubah komponen. Pencatatan konsumsi daya dilakukan secara otomatis dengan menggunakan Handy Cash, sehingga dapat mengurangi human error dalam pencatatan.
    * Pencatatan yang otomatis mengurangi kemungkinan manipulasi data transaksi.



F.1 KWH Meter Combo 1 fasa
Gambar F.1 KWH Meter Combo 1 fasa
Kilo Watt Hour (kWh) Meter berfungsi untuk mencatat energi terpakai oleh pengguna energi listrik. Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan pengembangan pada sisi tampilan yang dapat memudahkan dalam pembacaannya, karena dari kesalahan dalam pembacaan kWh meter berakibat dipihak penyedia jasa listrik mengalami kerugian dan pembukuan yang dilakukan menjadi tidak teratur, sedangkan dipihak konsumen akan terjadi ketidak sesuaian antara jumlah rekening yang harus dibayar dengan pemakaian listrik yang tercatat selain itu pelanggan dapat lebih sulit dalam melakukan kontrol jumlah pemakaian listrik tiap bulan. Pada tugas akhir ini mengunakan IC energy metering ADE 7757 dengan masukan tegangan dan arus dan menghasilkan keluaran pulsa sebanding dengan energi terpakai. Mikrokontroler AVR ATMega 8535 sebagai penghitung jumlah keluaran pulsa dari IC ADE 7757 serta melakukan perhitungan tarif-tarif dasar listrik yang berlaku. Setelah melakukan tera kWh Di PT. PLN Persero UPJ Surabaya Utara didapatkan tingkat ketelitian dari kWh ini adalah 97.278%, dan hasil terbaik di peroleh pada beban 3A CosĪ† 0.996 dengan persentase error 0.36% dan setelah dilakukan pengujian pemasangan di perumahan didapatkan tingkat ketelitian 94.2% terhadap kWh Analog PLN class2 dan 97.8% terhadap kWh digital actaris class1 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa meminimalkan kesalahan akibat tidak tepatnya pembacaan dapat dihindari dengan merencanakan tampilan dari kWh meter ukur listrik yang lebih mudah dibaca dan peralatan yang secara otomatis mengirimkan data digital pada wakt yang sudah ditentukan serta meningkatkan ketelitian dari kWh tersebut.

G. KONSTRUKSI SUTT 70 kV DAN 150 kV DENGAN TIANG Beton/Baja
G.1 Konstruksi SUTT Sirkit Tunggal
 Konstruksi SUTT sirkit tunggat disarankan menggunakan konstruksi sirkit ganda, dimaksudkan untuk perluasan menjadi sirkit ganda dan pertimbangan keandalan sistem penyaluran
G.2 Konstruksi SUTT 70 kV dan I50 kV sirkit tunggal
Jenis konfigurasi penghantar yang dipergunakan:
a.       Vertikal dengan isolator batang panjang atau renteng bentu
b.      Vertikal dengan isolator tonggak
c.       Vertikal dengan isolator batang panjang bentuk “Vee
d.      Delta dengan isolator batang panjang atau renteng bentuk “V”
e.       Delta dengan isolator tonggak
f.       Segitiga dengan isolator batang panjang bentuk “Vee”
G.3 Konstruksi SUTT 70 kV dan I50 kV sirkit ganda
Jenis konfigurasi penghantar yang dipergunakan :
a.    Vertikal dengan isolator batang panjang atau renteng bentuk “V”
b.    Vertikal dengan isolator tonggak
c.    Vertikal dengan isolator batang panjang bentuk :”Vee”
d.   Vertikal tiang ganda dengan isolator tonggak
Tabel 2: Kriteria dasar desain SUTT 70 kV dan 150 kV dengan tiang Beton/Baja


BAB  IV
URAIAN KEGIATAN



































































































































BAB V
DAFTAR GAMBAR

Kantor  PT. PLN UPJ  Sleman
Jl.Parasamya no 12 Beran Sleman
Gambar 1. Kantor PT.PLN UPJ Sleman






Panel GI sebagai kendali jaringan.
Gambar 2. Panel GI sebagai kendali jaringan

Isolator (long seng) pada JTM 20 KV
Gambar 3. Isolator (long seng)
                                               



Lighting Arrester (LA) sebagai   pengaman tegangan lebih.
Gambar 4.Lighting  Arrester(LA)sebagai
 pada JTM 20 KV pengaman tegangan lebih


Isolator (tumpu korea) pada JTM 20 KV
Gambar 5. Isolator (lampu korea) pada JTM 20 KV


Isolator (suspension) pada JTM 20 KV
Gambar 6. Isolator (suspension) pada JTM 20 KV

Trasformator 3 fasa merk Sintra.
Gambar 7. Trasformator 3 fasa merk sintra




Trasformator 1 fasa merk Starlet.
Gambar 8. Trasformator 1 fasa merk Starlet

Kwh meter prabayar 1 fasa
Gambar 9. Kwh meter prabayar 1 fasa



Kwh meter combo 1 fasa
Gambar 10. Kwh meter combo 1 fasa



Kwh Meter Combo 3 fasa
Gambar 11. Kwh meter combo 3 fasa

Kwh excim di  pasang di perbatasan wilayah jaringan UPJ
Gambar 12. Kwh excim dipasang di perbatasan wilayah jaringan UPJ
ABSW(Air Break Swict) pada JTM 20 kv
Gambar 13. ABSW (air break swict) pada JTM 20 kv




Jaringan 20 kv dan Transformator 1 fasa
Gambar 14. Jaringan 20 kv dan Transformator 1 fasa
Jaringan Tegangan tinggi 150 kv
Gambar15. jaringan Tegangan tinggi 150 kv
Jaringan tegangan exstra tinggi 500 kv
Gambar 16. Jaringan tegangan exstra tinggi 500 kv


BAB VI
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Setelah penyusun menyelesaikan laporan Praktek Industri (PI ) ini,maka penyusun dapat menyimpulkan bahwa PT. PLN (persero) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Instalasi Listrik pada JTR,JTM.JTT dan Jaringan ekstra tinggi,yang berperan sebagai penyuplai
Tegangan Listrik ke seluruh indonesia.

Di perusahaan juga terdapat divisi yang merupakan satu kesatuan dari pada kebutuhan yang diinginkan dalam menjalankan sebuah pekerja yang di sebut Accounting.
Penulis ingin menyimpulkan bahwa PT.PLN (persero)
 adalah suatu perusahaan yang :
·         Bergerak di bidang kelistrikan di Indonesia
·         Perduli terhadap pendidikan,terutama di Indonesia
·         Memiliki Karyawan atau tenaga kerja yang disiplin,handal, tangguh, berwawasan
luas,dan bertanggung jawab.


B.     KRITIK DAN SARAN
1.      Bagi Siswa
a.       Untuk menghindari berbagai kerugian yang di timbulkan dari kegiatan Praktek Industri ,baik kerugian pada perusahaan maupun kerugian pada peserta prakerin, maka perlu di persiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan Praktek Industri tersebut.Sebagai siswa di harapkan mempersiapkan diri khususnya dasar-dasar ilmu yang berkaitan dengan bidang-bidang yang akan di kerjakan.
b.      Siswa di harapkan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan dunia kerja moral maupun material sehingga dapat terjalin komunikasi dan hubungan yang baik antara siswa dan guru pembimbing prakerin.
c.       Siswa di harapkan mampu berusaha dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang di berikan oleh guru pembimbing prakerin sehingga pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik serta sesuai dengan keinginan.
d.      Siswa di tuntut untuk rajin pada saat PI,jika tidak ada keperluan yang penting atau pun sakit siswa harus rajin masuk agar absensi siswa baik danmemenuhi standar kelulusan.
2.      Bagi Sekolah
a.       Guru pembimbing Praktek Industri di harapkan lebih giat dalam mengawasi peserta PI,sehingga dapat  mengetahui sejauh mana perkembangan siswa dalam melaksanakan PI.

b.      Di harapkan pihak sekolah dapat menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan pihak perusahaan,sehingga jika terjadi hal-hal yang di butuhkan dan saling memerlukan kedua belah pihak dapat terselesaikan dengan baik.

3.      Bagi Perusahaan
a.       Diharapkan perusahaan dapat memberikan masukan kepada siswa prakerin lebih jauh lagi.Sehingga perkembangan dunia pendidikan tidak tertinggal jauh dengan perkembangan dunia kerja.
b.      PT.PLN (PERSERO) UPJ Sleman agar meningkatkan kualitas kerja,sehingga para pelanggan PT.PLN (PERSERO) UPJ Sleman merasa senang dan merasa terpuaskan dalam penyalesaian masalah-masalah yang di alami pelanggan.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar